Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, March 30, 2007

seni menata hati dalam bergaul

Seni Menata Hati dalam Bergaul
K.H. Abdullah Gymnastiar


--------------------------------------------------------------------------------

Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.

1. Aku Bukan Ancaman Bagimu

Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tagannya." (HR. Bukhari)

Hindari penghinaan
Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam.

Hindari ikut campur urusan pribadi
Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.

Hindari memotong pembicaraan
Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yag arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbak pada waktu yang tepat.

Hindari membandingkan
Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penamplan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina.

Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan.

Hindari merusak kebahagiannya
Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tauh persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.

Jangan mengungkit masa lalu
Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi.

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama denga mengajak bermusuhan.

Jangan mengambil haknya
Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.

Hati-hati engan kemarahan
Bila anda marah, maka waspadalah karenan kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkankata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucaan dirasakan berlebihan.

Jangan menertawakannya
Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.

Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut
Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.

2. Aku menyenangkan bagimu

Wajah yang selalu cerah ceria
Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud).

Senyum tulus
Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan. Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang yang busuk hati.

Kata-kata yang santun dan lembut
Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.

Senang menyapa dan mengucapkan salam
Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah diepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah.

Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.

Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan
Rsulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah.

Senangkan perasaannya
Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do’akan. Hal ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk berterima kasih.

Penampilan yang menyenangkan
Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.

Maafkan kesalahannya
Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan mengangkat citra kita dihatinya.

3. Aku Bermanfaat Bagimu

Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Allah lainnya.

Rajin bersilaturahmi
Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang.

Saling berkirim hadiah
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.

Tolong dengan apapun
Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, wakt atau setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh kesahnya.

Apabila tidak mampu, maka do’akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah.

Sumbangan ilmu dan pengalaman
Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.

Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka, kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan tersa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah Swt.

Friday, March 23, 2007

semesta bertasbih (II)

Saturday, March 17, 2007

muslim yang taat dan muslim yang kurang taat

Seorang muslim yang taat, akan selalu menginstospeksi dirinya, meningkatkan amal ibadahnya setiap hari, secara berkesinambungan. Ia selalu berfikir amal apa yang kurang ia perhatikan? dan dosa apa yang harus ditinggalkan secepatnya? Ia selalu mengingat kematian dan selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu. Ia selalu berdzikir dan berdoa. Ia ingin hidupnya bahagia dan mulia dengan kebaikan. Ia ingin hidupnya bermanfaat untuk orang banyak. Ia senantiasa berorentasi pada ridha rahmat, berkah magfirah dan taufiq Allah swt. Ia berjuang mengamalkan amanah Allah swt.
Katakanlah : ”sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikina itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. QS Al-An’am : 162-163

Itulah gambaran singkat karakter kepribadian orang-orang muslim yang taat. Sebaliknya ada juga pribadi muslim yang kurang taat dan kurang menghayati keislamannnya. Ia tidak berfikir tentang peningkatan amal ibadahnya. Ia kurang termotisivasi untuk menambah amal salehnya. Ia terbiasa menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya untuk beribadah dan berbuat baik. Ia tidak merasa butuh untuk merenungkan dosa dan kesalahnya. Ia kurang mengingat mati. Ia telah merasa cukup dengan ibadah-ibadahnya yang telah lalu. Ia merasa amal ibadahnya telah memungkinkannya untuk masuk surga. Ia menikmati dosa. Ia pecinta dosa. Ia banyak lalai. Ia kurang berzikir, ia kurang berdo’a dan kurang mengamalkan sunnah baik itu shlat sunnah, puasa sunnah, berinfak dan sedikit bersedakah. Itulah potret sederhana mukmin yang kurang taat.

Mengapa ada muslim yang kurang taat? Salah satu jawabannya adalah karena ia belum memahami tujuan hidupnya yang sebenarnya yaitu untuk mengabdi kepada Allah.
”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku” QS. Adz-Dzariyat : 56
Ibadah kepada Allah swt. Semata bertujuan untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Nya. Seorang muslim yang kurang taat, sesungguhnya belum mengetahui betul peranan kasih sayang Allah dalam kehifupan kesehariannya, peranan bantuan Allah dalam setiap aktivitas hidup kita. Dengan ampunan dari Allah, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan kemuliaan yang hakiki. Seorang muslim yang kurang taat, pemikirannya cenderung kepada materi, pragmatis dan duniawi saja. Inilah yang menjadi sebab mengapa ia tidak takut dengan dosa, ia senang dengan dosa, malahan ia menikmati dosa itu. Tidak ada rasa penyesalannya, ketika ia berbuat dosa, tidak mengherankan jika ia malas ke masjid. Tidak mengherankan jika ia malas membaca Al-Qur’an. Tidak mengherankan jika ia rutin tidur ketika mendengar khotbah. Bahkan mereka bangga dengan itu semua. Mengapa? Karena motivasinya rendah. Keyakinannya lemah. Ia kurang percaya kalau ketaatan dan kematuhan itu memberi pengaruh positif yang besar dalam kehidupannya. Dia kurang yakin kalau membaca Al-Qur’an akan membuatnya bahagia. Padahal dengan membaca Al-Qur’an, Allah akan memberikan berbagai macam kemudahan dalam hidup kita. muslim yang kurang taat juga memiliki sifat malas ke masjid, malas kepengajian, tidak mau bergaul dengan orang-orang shaleh. Karena itu, dia kurang senang dengan pembicaraan tentang islam, tentang kematian, tentang taubat. ia berpendapat bahwa mengamalkan ajaran islam biasa-biasa sajalah. Tidak perlu dipaksa-pakasa. Tidak perlu extriem. Orang yang ke masjid dikatakan berlebihan. Orang yang membaca Al-Qur’an dikatakan terlalu alim. Orang yang pergi kepengajian dikatakan sebagai pengangguran, tak punya pekerjaan. Yang jelas, inti dari hidup mereka yang kurang taat adalah uang, harta, rumah, pangkat, jabatan, popularitas, pujian, bersenang-senang, hura-hura, dan foya-foya. Itulah gambaran para umat muslim kita saat ini, bagaimana menyikapinya? Apakah kita termaksud muslim yang taat? Ataukah kita termaksud muslim yang kurang taat ? lihatlah diri kita sendiri. Jadi bagaimana mengatasinya??????? Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kepribadian kita, agar sesuai dengan ajaran Allah dan tuntunan Rasulullah saw???????? Tunggu artikel selanjutnya

Friday, March 16, 2007

lihatlah! apa lagi yang diragukan dalam islam



subhanallah!!!!!!!!!! Allahu Akbar

bila aku jatuh cinta

Artikel Islami
10 Februari 2002 - 15:41
Bila Aku Jatuh Cinta


Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !


by dududng.net

mengapa Allah turunkan azab?

Lagi-lagi Allah turunkan azab untuk bangsa Indonesia. Kali ini, azab tsunami tersebut melanda di pesisir pantai Selatan Jawa dan Jabar, serta gempa bumi cukup besar di Banten (Pandeglang), pada tanggal 17 dan 19 Juli 2006.

Gempa dan tsunami yang melanda daerah itu cukup mengejutkan kita.Sungguh tragis! itulah komentar kami, sebab azab Allah di DIY belum selesai ditanggulangi oleh pemerintah, begitu pula kehancuran Aceh, Nias, Sulsel yang dilanda longsor di beberapa kabupaten, Kalsel yang dilanda banjir serta lahar panas di Jatim dan sejumlah bencana lainnya.

Azab Allah melanda terus menerus untuk bangsa ini. Kenapa dan apa sebabnya hal itu terjadi? Sebab, pemimpin bangsa ini tak tahu diri dan tak bersyukur kepada Allah. Saat pencalonan Presiden dan Wapres pada pemilu lalu, mereka berbondong-bondong ke Mekkah (untuk umroh) dan meminta serta mengemis/mengiba kepada Allah di hadapan Kabah. Tapi, sungguh naïf setelah terpilih dan jadi penguasa, mereka malah ‘’menyembah’’ berhala ideologi buatan orang. Ternyata, ideologi Pancasila yang digali dari ideologi San Min Chu I—karangan Dr. Sun Yat Sen itu tidak bermanfaat, tak membawa berkah dan rahmat buat bangsa ini. Malah, bangsa ini diazab terus menerus oleh Allah, akibat penguasa bangsa ini enggan menerapkan konsep Al-Qur’an dan Syariat-NYA.

Selain azab Allah yang keras dan diperkirakan akan terus melanda bangsa ini, ternyata rakyat Indonesia menderita sederet persoalan antara lain, kemiskinan, kemelaratan, korupsi merajalela, busung lapar, pengangguran, demam berdarah, suap menyuap, dll.

Sungguh memprihatinkan terjadinya gempa bumi dan tsunami di wilayah ini yang diakibatkan oleh ulah pemimpin negeri ini yang tak bersyukur kepada Allah yang Maha Berkuasa. Alangkah bodohnya mereka hanya mengamalkan ideologi buatan orang, sementara itu Al-Quran dikesempingkan. Akhirnya, Allah murka luar biasa kepada mereka. OIeh sebab itu, seakan-akan bangsa ini sebagai bangsa yang terkutup seperti kaum Aad (umat Nabi Huud) yang dibinasakan Allah dalam sekejap saja. Padahal, kala itu umat Nabi Huud maju sekali dan punya gedung-gedung tinggi seperti di kota besar di Jakarta.

Untuk direnungi oleh kita semua, marilah kita renungi penyebab bencana DIY dan bencana tsunami di pesisir Pantai Jawa dan Jabar. Semua itu, selain ada kegiatan musyrik, ternyata di wilayah itu maksiat merajalela luar biasa. Perzinah, pelacuran, perjudian bukan main marak di daerah tersebut. Akibat merajalela maksiat, Allah murka kepada mereka.



PRAKTEK-PRAKTEK musyrik (menyekutukan Allah) sudah berlangsung ratusan tahun di wilayah Yogyakarta, terutama di pesisir pantai Ngerenehan—dekat Pantai Parang Tritis, Gunung Kidul, Yogyakarta. Perdukunan dan pelacuran pun demikian marak di daerah ini. Maksiat dan perbuatan musyrik sudah jadi rahasia umum memang demikian merebak di wilayah DIY. Penulis seringkali beroleh keluhan dari seorang warga Yogyakarta, bahwa di daerah tertentu di DIY sudah demikian marak tempat pelacuran. Penguasa setempat pun (bupati) malah melindungi tempat pelacuran itu!

Jauh sebelum kejadian bencana Yogyakarta tersebut, praktek prostitusi sangat marak di sepanjang pantai Selatan Bantul. Maksiat merajalela di sepanjang pantai tersebut yang melibatkan ratusan pekeja seks komersial yang datang dari berbagai daerah lain. Di Pantai Desa Srigading, Kecamatan Sanden, DIY, ternyata banyak menyediakan tempat penginapan yang menjadi salah satu tempat transaksi seks.

Selain itu, praktek musyrik yang kerap dilakukan oleh para nelayan di wilayah Pantai Ngerenehan antara lain, menyiapkan sesaji yang terdiri atas nasi uduk yang dibuat seperti gunung (congcot). Congcot itu dikelilingi buah-buahan segar dan ayam utuh yang sudah dimasak. Para fakir miskin di daerah itu berbondong-bondong melihat tradisi labuhan di pantai tersebut, tapi apa daya air liur mereka harus ditelan saja, karena mereka tak dapat menikmati makanan itu. Lalu, sesaji yang sudah siap itu dibawa ke tengah laut, kemudian dibuang.

Tradisi musyrik yang sudah turun temurun itu biasanya dilakukan pada satu Suro (1 Muharam). Hingga bencana terjadi, Pemda DIY dan penguasa Yogyakarta (sultan) tak pernah melarang acara labuhan itu. Namun, para pelaku musyrik di Pantai Ngerenehan tersebut harus dibayar amat mahal oleh masyarakat sekitar Yogyakarta yang tak ikut acara itu, tapi mereka harus menanggung akibatnya. Anehnya, ulama setempat (MUI Yogyakarta) juga tidak melarang acara musyrik tersebut. Para pelaku musyrik merasa yakin bahwa sesaji yang dibuang ke laut itu untuk ‘’Penguasa Laut Selatan.’’ Ternyata, ritual musyrik tersebut demikian marak juga di seluruh Indonesia, sehingga bencana demi bencana tak dapat dihindari lagi, akibat adanya perbuatan menyekutukan Allah itu.

Karena acara (ritual) musyrik itu tak dilarang dan sering dilakukan oleh sebagian masyarakat jahiliyah di wilayah pesisir pantai, maka gempa bumi dahsyat yang terjadi pada Sabtu (27/5) lalu, ternyata berpusat di sekitar 37 kilometer sebelah selatan Pantai Parang Tritis—tak jauh dari Pantai Ngerenehan. Perbuatan musyrik, jelas-jelas dilarang keras oleh ajaran Islam. Namun ritul labuhan tersebut oleh penguasa setempat dianggap kebudayaan yang harus dilestarikan.

Mereka menganggap tak afdol jika acara mubazir labuhan itu tidak dilakukan pada setiap satu Suro. Padahal, ritual itu merupakan perbuatan musyrik yang sangat dibenci oleh Allah SWT,sehingga menimbulkan murka dari-NYA. Mengapa acara labuhan para nelayan di pantai Ngerenehan dibenci Allah ? Sebab, mereka membuang sesaji ke laut untuk bersyukur kepada penguasa laut Selatan yang berupa jin (iblis) Nyi Loro Kidul. Padahal, alam ini dikuasai oleh Allah SWT. Dialah yang patut disembah dan disyukuri. Rachmat dan rezeki yang diberikan-NYA patut kita syukuri. Dengan demikian, acara labuhan para nelayan dan masyarakat setempat, selain maksiat yang merajalela di DIY, merupakan penyebab utama gempa bumi yang demikian banyak menelan korban jiwa.
by : suara muslim.com

Friday, March 9, 2007

Thursday, March 8, 2007

mmmmmmmmmmm

Saturday, February 24, 2007

Ada Yang Lebih KuCintai Selain Engkau

Kecantikanmu begitu mempesona, sehingga membuatku mengagumimu
tapi Dia dengan segala kecantikan ciptaanNya lebih membuatku terpana

Senyumanmu membawa ketenangan di hati,
tapi senyumanNya melalui bunga-bunga yang indah, sungguh meluluhkan hatiku

Perhatianmu padaku membuatku merasa ada yang mendampingi,
tapi perhatianNya kepada seluruh dunia membuatku lebih merasa aman.

Indahnya menatap wajahmu membuatku selalu rindu,
tapi menatap wajahNya kelak di hari akhir adalah kerinduan terbesarku

wahai bidadari hati,

engkau memang baik padaku,
tapi Dia selalu baik kepadaku juga padamu

cintamu padaku membuatku juga mencintaimu,
tapi kaupun tahu kau dan aku sama-sama mencintaiNya,
karena Dia adalah cinta sejati manusia

biarkan aku belajar cinta sejatiNya terlebih dahulu,
hingga saatnya tiba nanti,
aku tidak salah dalam mencintaimu
aku sudah bisa mencintaimu bukan karenamu, tapi karenaNya

(al-amrie,110206)


Saturday, February 17, 2007

Pengaruh Pergaulan Dalam Perilaku Seseorang

Persahabatan dalam pegaulan mempunyai pengaruh yang sangat
besar terhadap seseorang, apakah itu mendatangkan kebaikan atau justru
menjerumuskan kelembah yang hina. Hal
ini, bergantung pada berteman, bergaul
dan berkawan. Apakah dengan orang-orang saleh dan baik-baik ataukah dengan
orang fasik dan jahat. Pengaruh ini tidak nampak secara langsung. Tapi dengan
perlahan-lahan dapat mengubah/mempegaruhi sifat seseorang.


Neraca Untuk menilai Pergaulan

Barang siapa yang ingin mengetahui adakah manfaat yang
diperoleh dari sahabanya, baik itu penambahan iman, agama dan amal ataukah
justru membawanya kepada kemaksiatan/kehancuran. Maka hendaklah dia merenungi
kembali keadaanya sebelum bersahabat/bergaul dengan orang tersebut.

Teman seusia itu
saling mempengaruhi


Kadang kala
menyendiri itu lebih baik daipada berteman

Menyendiri atau berteman?

Berteman dengan
teman yang baik adalah lebih baik dari pada menyendiri. Menyendiri lebih baik
dari pada berteman dengan teman yang jahat. Akan tetapi Berteman dengan teman
yang jahat adalah lebih baik dari pada menyendiri, jika ada misi untuk mempengaruhinya untuk kebaikan

Perumpamaan Teman
Yang Baik dan Teman Yang Buruk.
Perumpamaan teman
yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan
pandai besi. Yang membawa minyak wangi bisa jadi kamu diberinya kewangian dan
mendapat semerbak harum darinya. Sedangkan pandai besi boleh jadi bajumu
terbakar karenanya atau mendapat bau busuk.
Pilihlah Teman Yang Baik

Jauhilah teman Yang Buruk

Jangan terbawa Arus teman yang jahat

Jauhilah teman yang tidak memberi manfaat.

Ceritakan kebaikan teman di belakang

Barang siapa yang mempersiapkan perlengkapan
perang makai ia telah berperang dan barang siapa yang menyebut kebaikan
temannya di belakang maka ia telah berperang. (HR. Bukhori)

Hati-hati Teman Akrab di Dunia Bisa menjadi musuh
di akhirat

Teman-teman akrab pada hari kiamat sebagiannya
menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa
(QS.
Az-Zukhruf 43 : 67)

SEMESTA BERTASBIH



subhanallah............... bahkan awanpun bersalawat kepada Nabi


Thursday, January 25, 2007

Saling mencintailah karena Allah agar bisa mendapatkan kecintaan Allah. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:“Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku,Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang saling berkorban karena-Ku,dan Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang menyambung hubungan karena-Ku.” Hiduplah di bawah naungan cinta dan saling mencintailah karena keagungan-Nya, niscaya akan mendapatkan naungan Allah, yang pada hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya.Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Pada hari kiamat Allah berfirman: ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku ini, Aku menaungi mereka dengan naungan-Ku.” (HR. Muslim). Bahkan Allah memuliakan mereka yang saling mencintai dan bersahabat karena Allah, yang membuat para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka mereka. Nasa’i meriwayatkan dengan sanad dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda:“Di sekeliling ‘Arsy, terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah cahaya pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahulah kami tentang mereka!” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena Allah.” “Ya Allah, kurniakanlah kepada kami Cinta terhadap-Mu dan Cinta kepada mereka yang mencintai-Mu, dan apa saja yang mendekatkan kami kepada Cinta-Mu, dan jadikanlah Cinta-Mu itu lebih berharga bagi kami daripada air yang sejuk bagi orang yang dahaga.” tanyailah diri kita masing-masing:
1. sudahkah aku menemukan cinta yang hakiki, cinta yang sejati dalam hidup ini?
2. Sejauh mana aku mengenal-Nya, asma’ (nama)-Nya, sifat-sifat-Nya, kehendak-Nya, larangan-Nya?
3. Seringkah aku mengingat-Nya, menyebut nama-Nya melalui zikir-zikir yang panjang?
4. Seringkah aku mendekatkan diri kepada-Nya dengan sholat serta ibadah-ibadahlainnya?5. Seringkah aku merintih, mengadu dan mengharap kepada-Nya melalui untaian doa yang keluar dari lubuk hati.
6. Sudahkah aku mengikuti kehendak-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya?
7. Apakah aku mencintai seseorang karena-Nya atau karena dorongan nafsuku sendiri?
8. Sejauh mana aku berusaha untuk mengekang hawa nafsuku sendiri?

Pandangan Islam Terhadap Cinta

Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah dan saking indahnya tak bias diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan Jalaludin Rumi menggambarkan saking indahnya cinta, setan pun berubah menjadi bidadari. Yang jelas karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan seseorang menjadi sangat tercela.

Kita tahu bagaimana kecintaan Khadijah ra kepada Rasulullah saw yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya dengan perasaan bahagia demi perjuangan sang kekasih yang menjadikannya mulia. Sebaliknya ada pemudi yang mengorbankan kehormatannya demi untuk menyenangkan sang kekasih yang dia lakukan atas nama cinta. Atau ada remaja yang menghabiskan nyawanya dengan baygon hanya karena cinta. Cinta yang demikian yang membawanya kepada kehinaan.

Lalu, apa sebenarnya makna daripada cinta? Benarkah cinta hanyalah sepenggal kata namun mengandung sejuta makna? Atau pendapat para filosof bahwa makna cinta tergantung siapa yang memandang? Rupanya tepat seperti uangkapan Ibnu Qayyim Al Jauziah tentang cinta, bahwasanya, “Tidak ada batasan tentang cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri.”

Ada pun kata cinta itu sendiri secara bahasa adalah kecenderungan atau
keberpihakan. Bertolak dari sini cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah gejolak jiwa dimana hati mempunyai kecenderungan yang kuat terhadap apa yang disenanginya sehingga membuat untuk tetap mengangankannya, menyebut namanya, rela berkorban atasnya dan menerima dengan segenap hati apa adanya dari yang dicintainya serasa kurang sekalipun, dan ia tumpahkan dengan kata-kata dan perbuatan.


Pandangan Islam terhadap Cinta

Cinta dalam pandangan Islam adalah suatu hal yang sakral. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullan menganjurkan agar cinta tersebut diutarakan.

“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy).

Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling mencintai, bahkan dianjurkan agar mendapat keutamaan-keutamaan. Islam tidak membelenggu cinta,karena itu Islam menyediakan penyaluran untuk itu (misalnya lembaga pernikahan)dimana sepasang manusia diberikan kebebasan untuk bercinta.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu
pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang,…”(Ar-Ruum: 21)

Ayat di atas merupakan jaminan bahwa cinta dan kasih sayang akan Allah
tumbuhkan dalam hati pasangan yang bersatu karena Allah (setelah menikah). Jadi tak perlu menunggu “jatuh cinta dulu” baru berani menikah, atau pacaran dulu baru menikah sehingga yang menyatukan adalah si syetan durjana (na’udzubillahi min zalik). Jadi Islam jelas memberikan batasan-batasan, sehingga nantinya tidak timbul fenomena kerusakan pergaulan di masyarakat.

Dalam Islam ada peringkat-peringkat cinta, siapa yang harus didahulukan/diutamakan dan siapa/apa yang harus diakhirkan. Tidak boleh kita menyetarakan semuanya.

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (Al-Baqarah: 165)

Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, seorang ulama di abad ke-7, ada enam peringkat cinta (maratibul-mahabah), yaitu:
1) Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi/paling agung adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Rabbul
‘alamiin.”
“Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (S.2: 165)
Jadi ungkapan-ungkapan seperti: “Kau selalu di hatiku, bersemi di dalam qalbu”
atau “Kusebutkan namamu di setiap detak jantungku,” “Cintaku hanya untukmu,” dll selayaknya ditujukan kepada Allah. Karena Dialah yang memberikan kita segala nikmat/kebaikan sejak kita dilahirkan, bahkan sejak dalam rahim ibu… Jangan terbalik, baru dikasih secuil cinta dan kenikmatan sama si ‘do’i’ kita sudah mau menyerahkan jiwa raga kepadanya yang merupakan hak Allah. Lupa kepada Pemberi Nikmat, “Maka nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu semua dari
Allah (S. 2: 165).
2) Peringkat ke-2; ‘isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah saw.
Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya,mencontohnya, dll, namun bukan untuk menghambakan diri kepadanya.
“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi saw) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)
3) Peringkat ke-3; syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, anatar orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah.
4) Peringkat ke-4; shababah yaitu cinta sesama muslim yang melahirkan ukhuwah Islamiyah.
5) Peringkat ke-5; ‘ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia.Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, berdakwah, dll.
6) Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta/keinginan kepada selain manusia: harta benda. Namun keinginan ini sebatas intifa’ (pendayagunaan/pemanfaatan).
(dinukil dari prayoga.net)

Sunday, January 21, 2007

HUBUNGAN CINTA DAN KEIMANAN DALAM ISLAM

Hubungan Cinta dan Keimanan Dalam Islam
cinta dan keimanan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Cinta yang dilandasi iman akan membawa seseorang kepada kemuliaan sebaliknya cinta yang tidak dilandasi iman akan menjatuhkan seseorang ke jurang kehinaan. Cinta dan keimanan laksana dua sayap burung.
Al Ustadz Imam Hasan Al Banna mengatakan bahwa “dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan.” Bagaimana tidak, jikalau iman tanpa cinta akan pincang, dan cinta tanpa iman akan jatuh ke jurang kehinaan. Selain itu iman tidak akan terasa lezat tanpa cinta dan sebaliknya cinta pun tak lezat tanpa iman.
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw:
“Barang siapa ingin memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah swt.” (riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah).
Tidak heran ketika ‘Uqbah bin Al Harits telah bercerai dnegan istri yang sangat dicintainya Ummu Yahya, atas persetujuan Rasulullah saw hanya karena pengakuan seorang wanita tua bahwa ia telah menyusukan pasangan suami istri itu di saat mereka masih bayi. Allah mengharamkan pernikahan saudara sesusuan. Demikian pula kecintaan Abdullah bin Abu Bakar kepada istrinya, yang terkenal kecantikannya, keluhuran budinya dan keagungan akhlaknya. Ketika ayahnya mengamati bahwa kecintaannya tersebut telah melalaikan Abdullah dalam berjihad di jalan Allah dan memerintahkan untuk menceraikan istrinya tsb. Pemuda Abdullah memandang perintah tsb dengan kaca mata iman, sehingga dia rela menceraikan belahan jiwanya tsb demi mempererat kembali cintanya kepada Allah.
Subhanallah, pasangan tsb telah bersatu karena Allah, saling mencinta karena Allah, bahkan telah bercinta karena Allah, namun mereka juga rela berpisah karena Allah. Cinta kepada Allah di atas segalanya. Bagaimana halnya dengan pasangan yang terlanjur jatuh cinta, atau yang ‘berpacaran’ atau sudah bercinta sebelum menikah? Hanya ada dua jalan; bersegeralah menikah atau berpisah karena Allah, niscaya akan terasa lezat dan manisnya iman. Dan janganlah mencintai ‘si dia’ lebih dari pada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dari Anas ra, dari nabi saw, beliau bersabda:
“Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah ra, rasulullah saw bersabda:
“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai….” (HR Muslim)
Cinta Kepada Allah, Itulah yang Hakiki Cinta bagaikan lautan, sungguh luas dan indah. Ketika kita tersentuh tepinya yang sejuk, ia mengundang untuk melangkah lebih jauh ke tangah, yang penuh tantangan, hempasan dan gelombang dan siapa saja ingin mengarunginya. Namun carilah cinta yang sejati, di lautan cinta berbiduk ‘taqwa’ berlayarkan ‘iman’ yang dapat melawan gelombang syaithan dan hempasan nafsu, insya Allah kita akan sampai kepada tujuan yaitu: cinta kepada Allah, itulah yang hakiki, yang kekal selamanya.
Adapun cinta kepada makhluk-Nya, pilihlah cinta yang hanya berlandaskan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena bujuk rayu setan, bukan pula karena desakan nafsu yang menggoda. Cintailah Allah, berusahalah untuk menggapai cinta-Nya. Menurut Ibnu Qayyim, ada 10 hal yang menyebabkan orang mencintai Allah swt:
1. Membaca Al-Qur’an dan memahaminya dengan baik.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat sunat sesudah shalat wajib.
3. Selalu menyebut dan berzikir dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
5. Menanamkan dalam hati asma’ dan sifat-sifatnya dan memahami makna.
6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.
7. Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.
8. Menyendiri bermunajat dan membaca kitab sucinya di waktu malam saat orang lelap tidur.
9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang soleh, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka
10.Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.

Baru-baru ini kita memasuki tahun baru hijriah 1428, alhumdulillah Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan kesempatan ini harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Kita harus mengoreksi diri, kita harus lebih baik dari pada tahun sebelumnya. Rasulullah saw bersabda “barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka ia orang yang rugi, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka dialah orang yang celaka”maka tidak ada jalan kecuali selalu lebih baik dari pada hari kemarin, itu lah kunci kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Banyak orang yg mengukur kesuksesan itu dari banyaknya harta, banyaknya pangkat, banyaknya gelar, tingginya kedudukan/jabatan dan lain sebagainya dari dunia ini. tetapi kesuksesan abadi atau kesuksesan hakiki adalah apabila seseorang itu dimasukan kedalam surga dan dijauhkan dari api neraka, itulah kesuksesan yang sejati. Kita jangan terlalu cinta dengan dunia, dunia ini fana, hanya semntara, dan pasti semua akan kembali kepadanya. Dunia in adalah fitnah.
1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.
Ada yg lucu dari kita ketika kita menonton bola, betapa serunya perpanjangan waktu pertandingan bola favotite kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat memanjangkan bacaanya susah banget baca alquran 1 juz saja tapi novel best seller 100 halamanpun habis dilalap orang berebut paling depan untuk nonton konser musik tapi dalam pengajian orang berebut cari shaft paling belakang agar bisa tidur. Ini kah kita? Sungguh dunia telah melalaikan kita. Oleh karena itu nabi mengajurkan kita untuk mengingat mati dan mempersiapkan. Orang yang paling pintar itu bukan orang yg jara olimpiade matematika sedunia tetapi orang yg paling pintar adalah orang yg selalu mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dan bekalnya itu adalah amal saleh, tetapi ingat ketika kita mengerjakan amal saleh kita harus ikhlas. Karena "Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat dan betapa banyak pula amalan besar menjadi kecil pahalanya karena niat" (Abdullah bin Mubarak) "orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya" (Ibnul Qoyim Al Jauziyah) ikhlas terdiri dari enam huruf I K H L dan S yg artinya Ibadah Karena Hati Lebih Allah Sukai. Tetapi itu bukan berarti kita tidak boleh mengejar dunia ada suatu ungkapan “kumpulkanlah harta sebanyak-banyaknya seakan-akan kamu hidup untuk selamanya. Dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”. Semua apa yang kita inginkan tak akan tercapai tanpa duit, yaitu Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakkal
para pemuda kita saat ini adalah akan menjadi pemimpin di masa depan. Allah sangat menyukai pemuda yg saleh di bandingakan dengan orang tua yg saleh. Karena para pemuda memiliki lebih banyak cobaan dari pada orang tua. Apa lagi nafsu terhadap sesame jenis. Oleh karena itu para pemuda harus menjaga pandangannya. Karena pandangan adalah salah satu anak panah iblis. Pandangan perta laki-laki untuk permpuan adalah halal tetapi pandangan selanjutnya adalah haram dan menyesatkan.

Friday, January 19, 2007


Aku ini mahluk yg hina yg mencari petunjuk Ilahi,aku ini masih kurang ilmu, adakah seseorang yg akan membantuku? aku tak tahu banyak tentang diriku, aku telah menghirup udara yg ALLAH berikan selama 16 tahun, tetapi selama itu pula maksiat terus mengalir di sepanjang hidupku. Setiap hari setiap jam yang berlalu, setiap, menit bahkan tiap detik, dosa-dosa terus memenuhi catatan keburukanku, Ya Allah tanpa Ampunan-Mu hamba ini orang merugi!!!setiap detik yang berlalu semakin membawa diriku kepada kematian. Aku tahu aku ini masih muda, tapi itu tidak menjamin umurku masih panjang. Aku sadari semua itu, tapi maksiat masih tetap ku janalankan dan ibadah ku sangat sedikit, bahkan aku tak yakin ibdahku yg sedikit itu diterima di sisi-Nya. Tiap saat begitu banyak nikmat yg Allah berikan, tapi nikmatnya itu justru melalaikanku, dan nikmatnnya itu kupergunakan untuk berbuat maksiat!
Ya Allah beri ampunlah hamba…………………beri petunjuklah hamba………….

pacaran dalam islam

Betulkah di dalam Islam ada yang namanya pacaran?

"Pacaran" adalah suatu kata yang tidak asing lagi kita dengar di kalangan remaja. Sebetulnya apa yang disebut dengan "pacaran" itu? Betulkah di dalam Islam ada yang namanya pacaran?
Pacaran diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas dari definisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu yang wajar dilakukan dikalangan remaja. Padahal apabila kita tinjau dari sudut agama Islam, dalam Al-Qur?an dan Al-Hadits ternyata tidak ada satu kalimatpun yang menjelaskan tentang pacaran.
Dalam Islam hanya ada khitbah (tunangan). Tapi khan tidak mungkin kita tunangan tanpa mengenal pribadi calon kita?. Tidak seperti itu, sebelum terjadi khitbah, di dalam Islam dianjurkan untuk berta?aruf (berkenalan) itupun kalau seandainya kita siap untuk nikah. Sebenarnya rugi kalau seandainya pacar kita itu bukan jodoh yang Allah SWT takdirkan untuk kita. Padahal kita sudah berkorban.
Islam sesungguhnya agama kasih sayang, sangat tidak adil jika kita memberikan kasih sayang itu kepada seseorang saja. Padahal umat Islam itu bersaudara, Firman Allah dalam QS Al-Hujurat : 10, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara". Bagaimana kita bersaudara dalam Islam?
Saling bersilaturahmi, karena dengan bersilaturahmi dapat menumbuhkan rasa kasih sayang.
Saling bertausyiah, karena ketika kita lupa kita diingatkan, dan ketika orang lain lupa kita mengingatkan.
Saling mendo?akan.
Jadi kita harus memberikan kasih sayang kepada seluruh umat Islam di dunia ini, bukan hanya kepada seseorang dan kelompok tertentu saja.
Untuk itu, marilah kita sama-sama untuk menghindari yang namanya pacaran itu. Karena kasih sayang tidak harus diungkapkan kepada seseorang saja, tetapi kepada siapa saja. Apabila kita melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh agama, maka kita akan berdosa. Begitu juga pacaran, apabila kita melakukan apa yang disebut dengan pacaran, maka kita akan berdosa pula. Na?udzubillaahi min dzalik.
Oleh karena itu, hendaklah kita :
Menundukan pandangan.
"Firman Allah dalam QS An-Nuur : 31 mewajibkan kita untuk menundukkan pandangan. Sabda Rasul : "Pandangan itu merupakan salah satu panah iblis."
Jangan berduaan dengan lawan jenis.
"Janganlah kamu pergi berduaan dengan lawan jenismu, sebab yang ketiganya adalah setan."
Memperbanyak shaum sunat
Hal ini dimaksudkan agar kita selalu dapat menjaga pandangan dan menahan hawa nafsu.
Cobalah tiada lain suatu amalan yang dicintai Allah, sesungguhnya Allah akan jauh lebih mencintai kita. Carilah amalan yang disukai Allah, setelah kita tahu bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, cobalah untuk membatasi diri dalam hal itu. Ingatlah bahwa jangankan berpacaran, mendekatinya saja kita sudah tidak boleh. Firman Allah "Janganlah kamu dekati zina".
Kita tidak bisa menjaga pandangan dari yang tidak halal berarti kita sudah zina mata. Begitupun dengan pendengaran, pembicaraan, hati, bila tidak kita jaga dari perbuatan yang mendekati zina, berarti kita sudah berzina. Na?udzubillaahi min dzalik.
dari mediakita.cjb.net

Tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah SWT

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata”. (H.R.Bukhary - Muslim)Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat ada tujuh tipe atau golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah swt., yaitu :1. Pemimpin yang adilMenjadi pemimpin yang adil itu tidaklah mudah, butuh pengorbanan pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas namun amanah. Kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai fasilitas, kemungkinan besar kita akan memanfaatkan kepemimpinan itu sebagai sarana memperkaya diri tanpa menghiraukan aspek halal atau haram. Sebaliknya, kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai amanah, kita akan melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Nah, untuk melaksanakan kepemimpinan dengan cara yang amanah itu tidaklah mudah,. Karena itu logis kalau kita menjadi pemimpin yang adil, Allah akan memberi perlindungan di akhirat kelak. 2.Anak muda yang salehMasa muda adalah masa keemasan karena kondisi fisik masih prima. Namun diakui bahwa ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya, Allah akan memberikan perlindungan-Nya pada hari kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang saleh.3.Orang yang hatinya terikat pada mesjidKalimat “seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid” seperti yang disebutkan hadits di atas, paling tidak menunjukkan dua pengertian. Pengertian pertama, orang-orang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Pengertian kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.4.Bersahabat karena AllahPoin ini terambil dari kalimat “dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah”. Bersahabat karena Allah swt. maksudnya kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena faktor harta, kedudukan, atau hal-hal lain yang bersifat material, namun murni semata-mata karena Allah swt. Kalau sahabat kita berbuat baik, kita mendukungnya, dan kalau berbuat salah kita mengingatkannya, bahkan kita berani meninggalkannya kalau sekiranya sahabat tersebut akan menjerumuskan kita pada gelimang dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksud dengan persahabatan karena Allah.5.Mampu menghadapi godaan lawan jenis“Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah.” Kalimat ini menggambarkan bahwa kalau kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat. Di sini digambarkan seorang laki-laki yang digoda wanita bangsawan nan rupawan tapi dia menolak ajakannya bukan karena tidak selera kepada wanita itu, namun karena takut kepada Allah. Jadi, rasa takut kepada Allahlah yang menjadi benteng laki-laki tersebut, sehingga tidak terjerembab pada perbuatan maksiat. Karena itu Allah memberikan penghargaan pada hari kiamat dengan memberikan pertolongan-Nya. Di sini diumpamakan laki-laki yang digoda wanita, namun sangat mungkin wanita pun digoda laki-laki. 6.Ihklas dalam beramal“Seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.” Ini gambaran keihlasan dalam beramal. Saking ihklasnya dalam beramal sampai-sampai tangan kiri pun tidak tahu apa yang diinfakkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya. Pertanyaannya, bolehkah kita bersedekah sambil diketahui orang lain, bahkan nama kita dipampang di koran? Boleh saja, asalkan benar-benar kita niatkan karena Allah swt., bukan karena cari popularitas. Perhatikan ayat berikut, “ Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah 2: 271)7.Zikir kepada Allah dengan khusyu“Seseorang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata.” Zikir artinya mengingat Allah. Kalau seseorang berdo’a dengan khusyu hingga tak terasa air mata menetes karena sangat nikmat berzikir dan munajat kepada-Nya, maka Allah akan memberikan pertolongan kepadanya pada hari kiamat kelak.(Aam Amiruddin, percikan-iman.com)